SKRIPSI

on Sunday, September 7, 2014
Dulu, waktu gue SMA gue pernah (sok-sokan) nulis tentang tips dan trik menghadapi UN (ujian nasional). Lucu juga sih kalo dibaca dan diinget-inget lagi gimana peliknya tahun terakhir gue di SMA waktu itu. Nah sekarang, gue berada di semester terakhir masa perkuliahan dan alhamdulillah sudah menyelesaikan skripsi yang kata banyak orang adalah nightmare. Katanya, bagian paling susah dari skripsi itu ngumpulin niatnya. Iya, emang susah, skripsi gak kayak UN, yang udah ada jadwalnya dan segalanya udah ada yang ngatur. Kita tinggal ikutin timeline sekolah, dateng bimbel, belajar, dan yaudah kerjain UNnya. Nah mungkin ini beberapa hal yang menyebabkan skripsi itu sulit banget nyelesainnya.
  1. Topiknya pilih sendiri. Buat yang kuliahnya yang-penting-gue-dateng, biasanya bingung mau skripsi tentang apa. Ya karena keilmuan yang dikasi dosen selama ini ga diserap baik-baik, yaudah penerapan ilmu buat diaplikasikan ke penelitian skripsinya jadi bingung.
  2. Penentuan metode. Kalo di jurusan gue sih, yang banyak orang bingung adalah tentang metodenya. Bingung karena kita bisa menemukan ratusan metodologi dari jurnal, tapi gak satupun yang kita ngerti. Gak pernah diajarin di kelas pula.
  3. Bergantung sama pihak lain. Baik yang pake data primer maupun sekunder. Pake data primer bergantung sama ratusan responden dan belum tentu nemuin yang tepat sasaran dengan gampang. Pake data sekunder bergantung sama data perusahaan. Pertama, di PHPin mulu sama pihak perusahaan karena minta dikabarin tapi gak pernah dikabarin balik, bahkan bisa ditolak mentah-mentah dengan bilang “kita ga nerima anak skripsi”. Kedua, untuk ketemu sama pihak yang kompeten bisa jadi diundur-undur terus dan itu bikin kita sangat-sangat gak progresif.
  4. Teacher doesn’t feed you. Jadwal bimbingan ngatur sendiri, bisa kapan aja tergantung kesiapan materi, tergantung dosennya ke kampus atau enggak, tergantung beliau bales sms apa enggak. Lagi-lagi jadwal bimbingan bergantung sama inisiatif lo untuk mau jadi se-progresif apa.
  5. Yang paling susah, membangun moodnya. Katanya, buka skripsi dan mengerjakannya harus dilakukan secara kontinu. Karena efeknya, 2 hari aja gak nyentuh skripsi, otak lo udah buyar kemana-mana gak bisa mikir, gak tau mau nulis apa. Padahal biasanya mahasiswa skripsi itu mahasiswa paling pengangguran (kuliah engga, aktivitas rutin juga engga ada, bimbingan doang kerjaannya), mungkin karena biasa nganggur nyetemnya kayak mesin diesel dulu, lama. Iya, ini world's most problem banget.

Nah, berhubung gue sudah menyelesaikan fase ini dengan alhamdulillah lumayan lancar, gue mau sedikit sharing (alhamdulillah kalo ada yang bisa dijadiin tips trik :D).
  1. Pilih topik yang bikin penasaran. Bikin penasaran, ditaksir, sukur-sukur jadi jatuh hati. Pemilihan topik skripsi bisa didasari oleh berbagai macam hal. Bisa karena suka aja sama topiknya kemudian masalahnya dicari-cari dan disambung-sambungin aja, bisa karena “berkaca” pada skripsi yang udah ada (dengan beberapa pembaharuan), bisa karena “mengutip” jurnal internasional yang udah jelas langkah dan metodenya, bisa karena “nurut” permintaan perusahaan yang buka kesempatan untuk anak-anak skripsi, atau yang paling aman “nebeng” proyek dosen yang udah pasti diikat sama tuntutan dosen untuk menyelesaikan proyek tersebut. Dari semua cara pemilihan topik ini ga ada yang salah. Tergantung sama kesesuaian lo dengan pencapaian yang ingin lo rasakan selama proses pengerjaan. Gue sendiri menerapkan penentuan topik dengan jalan yang pertama,  yang karena topiknya suka aja. Berhubung gue anaknya tertarik ke industri yang agak-agak nyeleneh (industri showbiz, yang super langka diteliti sama anak teknik industri), gue jadi mengalami kegalauan panjang. Dosen gue pernah bilang, TIUI punya spesialisasi di jenis service industry, bukan hanya di manufaktur, jadi jangan berpandangan sempit teknik industri cuma bisa diaplikasikan di sekitar dunia manufaktur (pabrik). Ya sebenernya udah banyak juga jenis service industry yang udah dieksplor sama anak-anak TI. Let’s say banking, rumah sakit, transportasi, asuransi, pendidikan, dll. Gue ingin sedikit banting setir ke industri showbiz untuk nambah jenis industri “tanahnya” anak TIUI. Sekaligus mewadahi interest gue :D
  2. Pilih dosen yang spesialisasinya sesuai dengan topik. Karena gue mendengar beberapa cerita ada yang memilih dosen karena aspek “baik”nya, jadi berharap aman. Untuk kali ini percayalah tidak semua dosen mempunyai kapabilitas yang sama. Sebagai contoh, gue mengambil tema yang kurang lebih isinya adalah tentang online ticketing, customer loyalty, dan strategic management. Oleh karena itu gue memilih bapak D karena beliau memiliki spesialisasi di bidang manajemen industri (yang paling berbau ke-ekonomi-an diantara mata kuliah engineer lainnya). mata kuliah yang diajar beliau antara lain: management information system (mendukung topik online ticketing), customer relationship management (mendukung topik customer loyalty), dan innovation management (mendukung strategic management). Nah karena beliau sangat senior dan mumpuni, beliau tau harus mengarahkan gue ke dasar teori yang mana dan pola pikir yang mana. Beliau terkenal sebagai the king of journal yang tiap kali bimbingan menuntut anak-anaknya untuk sudah dalam keadaan membaca jurnal. Ga keitung berapa juta jurnal udah gue baca untuk menegaskan dasar teori yang ingin gue angkat. Tapi ya ini kebukti banget manfaatnya, dari 2 kali seminar dan 1 kali sidang, (hampir) seluruh tudingan dosen bisa gue jawab dengan landasan yang kuat (jurnal, yang otomatis ga bisa dibantah).
  3. Pilih dosen yang punya track record bagus dalam membimbing anak-anaknya. Sebelum seminar 1, temen-temen gue sempet insecure karena metode bimbingan dosen gue ini timelinenya ga seperti kebanyakan dosen. Di bulan-bulan pertama, kebanyakan dosen berfokus dengan latar belakang masalah dan Bab I. Dosen gue menganggap masalah baru bisa diperoleh setelah kita meninjau isu-isu terkini dan mengetahui dasar teori. Jadilah kita disibukkan dengan mencari berpuluh-puluh jurnal di bulan-bulan pertama demi memperoleh pengetahuan yang cukup. Kita cukup khawatir karena bisa dibilang progress kami lebih lambat dibanding dengan anak bimbingan dosen lain. Di dua minggu menuju seminar 1 baru kita disibukkan dengan latar belakang dan Bab I. Tapi pada akhirnya pun kita bisa punya hasil yang sama dengan anak-anak lain. Karena metode ini sudah diterapkan oleh si bapak selama bertahun-tahun dan so far track recordnya ga bermasalah, kita tinggal percaya aja.
  4. Lebih baik cari dosen yang dari awal mau menyediakan waktu khusus bimbingan secara rutin. Alhamdulillah dosen pembimbing gue tidak usah dikejar-kejar ke ujung dunia buat janjian bimbingan. Beliau selalu menyediakan waktu bimbingan 2 kali seminggu di hari selasa kamis. Dengan begitu, lo jadi punya target dan progress yang jelas. Dalam seminggu itu itu, at least lo pasti mengerjakan sesuatu dan ada yang harus dikerjakan untuk pertemuan berikutnya. Setoran tanpa jadwal yang jelas itu sangat bergantung sama inisiatif.
  5. Enak cari teman-teman seperbimbingan yang sejoli. Kalo gak sejoli, jalannya jadi sendiri-sendiri. Kalo sejoli bisa saling melengkapi. Ngadepnya bareng-bareng, susahnya bareng-bareng, curhatnya bareng-bareng. Bisa saling ngecek progress satu sama lain jadi ngingetin satu sama lain. Dan kebetulan gue adalah tipe orang yang akan menjadi pribadi yang tenang ketika gue tahu yang khawatir bukan cuma gue. Biasanya, di antara teman-teman seperbimbingan gue, gue menjadi orang yang men-selow-kan mereka :D
  6. Jangan gampang stress. Percayalah lo bukan orang yang paling parah tuntutannya. Percayalah semuanya punya beban yang sama. Jangan hanya karena lo stuck memperoleh data atau sumber literatur, lo jadi merasa punya hak untuk mengeluh berlebihan. Bisa jadi orang lain lebih parah, tapi mereka tidak mengeluh. Mengeluh tidak menyelesaikan apapun, lebih baik terus berusaha dan berdoa. Jujur aja masa-masa paling stress gue kemaren itu waktu gue harus mencari 500 responden dengan spesifikasi yang super susah: pernah beli tiket konser secara online, dengan kondisi pertanyaan yang gue berikan berjumlah hampir 40 biji (bikin males kan). Tapi, alhamdulillah semua ada jalannya. Kuncinya yaa....berusaha dan berdoa, toh akhirmya pasti selesai juga (btw, ini salah satu doa yang gue titipin ke bokap nyokap waktu mereka umroh: dikasi jalan buat dapetin responden).
  7. Bantulah teman-teman lo terutama yang seperjuangan. Kalo udah ngerasain yang namanya skripsi, udah tau deh gimana susahnya dan gimana sekecil apapun bantuan dari orang lain itu sangat-sangat membantu. As simple as ketika lagi ngerjain skripsi bareng dan lo lagi pusing-pusing dan serius-seriusnya, seorang temen lo tiba-tiba menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan skripsinya. Mungkin sebagian orang akan jawab gatau gitu aja karena merasa lagi pusing juga. Tapi memberikan opini kita buat mereka itu bentuk perhatian yang bisa (walaupun sedikit) menghilangkan rasa cemas atau kebingungan mereka.
  8. Kalo udah bosen, liburan. Beberapa orang merasa ketika mereka punya tanggungan, mereka ga bisa ninggalin sebelum pekerjaan itu selesai. Ya, bagus sih. Tapi kalo gue tipe orang yang kalo udah bosen, mending cari sarana refreshing dulu baru abis itu ngerasa guilty dan malah jadi membuat komitmen untuk lebih produktif lagi.
  9. Rutinitas magang yang related akan sangat membantu. Skripsi gue bisa dibilang study case perusahaan. Jadi sangat bergantung sama akses yang dikasi perusahaan. Untuk dapet akses yang cepet dan pasti, gue sambil magang di perusahaan tersebut selama hampir 4 bulan. Ya walaupun dalam perjalanannya gue banyak ngeluh gara-gara mau die bolak-balik naik kereta depok-sudirman di jam kerja. Tapi dengan lo pergi ngantor tiap hari dan beban lo cuma ngerjain skripsi (alhamdulillah ga disuruh jadi anak magang yang aneh-aneh), mau gak mau tiap hari harus buka laptop dan memandangi skripsi daripada diliat orang kantor ga jelas ngapain.
  10. Ketahuilah cara terbaik lo untuk fokus. Ada yang mesti pergi ke kampus, ada yang mesti di tempat tenang, ada yang mesti sendiri banget, dan ada jenis-jenis fokus ngerjain skripsi lainnya. Kalo gue sih yang penting ada temennya, ada yang bisa diajakin ngobrol (walaupun orangnya belum tentu melakukan suatu hal yang produkti juga, dan harus ada internet yg reliable.
Jadi begitulah kurang lebihnya. Padahal udah mulai ditulis dari kapan tau, tapi mau ngelanjutinnya sampe selesai susah bener ya, sampe lupa lagi mau nulis apa aja. Yauda diudah-udahin aja daripada mengendap lama-lama haha. Dan alhamdulillah sekarang perihal skripsi-skripsiannya udah selesai. Alhamdulillah juga 1 mata kuliah spesial di semester terakhir ini tertutup dengan indah dengan pujian well prepared dari para dosen penguji di sidang kemaren :)

Dan alhamdulillah sudah wisuda juga....
Salam,
Elza S.A + S.T
(udah sarjana masi gak jelas aja kegiatan bloggingnya)

Pengen-pengennya

on Tuesday, July 22, 2014
pengen-pengennya abis lulus nanti:
- ambil diving lisence
- ambil kelas gitar/vokal
- bikin SIM A
- ikut kompetisi bikin film
- bikin travelling journey idiot ala rider
- bikin akun soundcloud
- beli gitar/benerin gitar lama
- ngajakin yang mau ke bali untuk bungee jumping
- naro hiasan diatas meja kerja: aquarium yang ikan warna-warni berenangnya bisa diliatin, tumbuhan idup pake pot kecil, buket bunga artificial
- punya window seat di tempat tinggal baru
- make over rambut kayak hanna marin yg ada colored layernya :D

#TreasureHunt: Jogja dan Seisinya

on Friday, May 30, 2014
Selama kurang lebih 2 minggu, gue mengalami demotisasi (?) akut. Rutinitas harian tetep berjalan seperti biasa tapi super duper engga produktif. Nyalain alarm selalu jam 3.50 tapi selalu di snooze 10 kali sampe akhirnya bangun lagi jam 6, terus lanjut tidur lagi sampe setengah 7, males, tidur lagi, sampe jam 7 kurang 15, masih males akhirnya tetep gegoleran di atas kasur sambil buka path atau main 2048. Tepat jam 7 baru panik ngambil handuk, mandi, siap-siap kilat, jam setengah 8 makin panik, sampe jam 8 kurang 20 baru akhirnya pergi meninggalkan kosan. Gak pernah makan pagi karena selalu keburu-buru. Nunggu bikun sambil panik karena most of bikun di jam segitu dari halte teknik langsung muter ke asrama. Yang nunggu di halte teknik udah super membludak (kayaknya yang pada kuliah jam 8), jam 8 biasanya bikun baru dateng (dan biasanya bikun kecil gak ber AC). 8 lebih 10 sampe di stasiun, naik kereta jurusan sudirman yang yah you know lah. Sampe di sudirman tepat jam 9, kalo lagi mood sarapan biasanya beli Roti O. siapin uang 3 ribu buat naik kopaja/metromini turun di setiabudi. Jalan kaki lewat midplaza sampe ke sahid boutique. Sampe-sampe awkward bilang “pagi mas”. Buka laptop duduk di sofa......................trusssss sampe jam 6 kurang 15 sore. Sampe pegel sepegelnya karena gak ada meja. Isinya gak jelas ngapain. Bengong, browsing, liat-liat, kerjain skripsi sambil males-malesan, nguping pembicaraan orang kantor, ngeliatin hujan, duh. Pulang-pulang super stress karena kereta kondisinya kayak mau bunuh orang. Sampe sakit lemes tapi dibela-belain karena kereta ganas yang tidak mengenal belas kasihan. Jam 7 sampe kutek, beli cumis asem manis di singgah sana (tiap hari sumpah). Makan, sambil nonton diam-diam suka (ah elah), mandi, lalala lilili ditemani ganteng-ganteng serigala dan mak ijah pengen ke mekkah (mancung made my night brighter), capek, males, tidur. Tiap kali mau buka skripsi moodnya gak ada.

Saking produktivitas gue menurun drastis akhirnya gue memutuskan untuk refreshing dikit biar semangatnya ada lagi.

Di pas-pas in sama wisudaannya anak-anak ugm. Diada-adain waktunya walaupun agak maksa. Siap-siapin alasan ga masuk kantor dan ga ikut bimbingan.

JALAN BENERAN.

I didn’t normally travel without plan. Bisa dibilang gue adalah orang yang (sebenernya) terjadwal tapi (akhirnya) yaudah liat aja nanti. Kalo ke suatu tempat biasanya cari tahu dulu kumpulin informasi sebanyak-banyaknya biar dapet semuanya gak ada yang kelewat, tentuin apa yang cocok dan dipengenin, mengexpect dapet itu, terus kalo dapet beneran alhamdulillah, kalo ga dapet menyesal dalam hati. FYI, kiblat gue dalam pencarian informasi ke jogja ini adalah JALAN-JALAN MEN (my latest fave series). Berhubung I prefer physical activities than heritage sight-seeing atau culinary thing, my top mission in Jogja was..... DO THE FREEFALLING. I didn’t expect anything but freefalling, di Goa Pindul (berkiblat dari Jalan-Jalan Men).
Walaupun sampe jogja somewhen before the dawn (oke, ini istilah aneh, bikin-bikin sendiri aja), dan temen-temen gue bukan super traveller sejati kayak jebraw, yaudah kita tidur aja :DDD sampe siang. Sesiangan sampai di kontrakan cowok obral-obrol lama dulu untuk mutusin mau kemana. Akhirnya diputuskan, baru pada menit di siang itu, untuk sewa mobil dan CAW TO KALI OYOOO!

Thanks to teman-teman satubumi FTUGM yang allowed us to enter the area even it was 4 pm already (closing time, normally). Pecahnya ga Cuma itu, we got ONLY 30K for (should-be) 45k HTM. Meeeen, 30 ribu bisa masuk tempat wisata, yang biasanya buat makan di kafe aja ga cukup, wkwkwkwk.

Btw, snorkeling di Derawan dan Kakaban tahun lalu benar-benar mengubah paradigma my-fave-physical-activity banget. Yaps, jadi something related to water, and swimming. Do body rafting di Kali Oyo ini bener-bener my thing banget. HAHA. Plus freefalling. It was my thing-er. Ditambah lagi bareng friends-like-fams, nozo. MY THING-EST.
So, kalo disimpulkan:
  1. My thing: something related to water, and swimming
  2. My thing-er: plus adrenaline junkie activity
  3. My thing-est: plus comfort friend

Haha. Kok lucu ya?

Yaudah. Pokoknya I finally accomplished my mission to do the freefalling, walaupun ga jadi yang dari ketinggian 12 m :(((( because of HSE thing due to waktu sudah magrib, berbahaya. Ah yaudah deh gapapa. Tapi berenang magrib ada hikmahnya juga............ for the very first time in forever, I did swimming under the moonlight (gak ada bulan sih, tapi bintangnya banyak) and fireflies crowd (iya, kunang-kunangnya juga banyak). Kayaknya terakhir kali liat kunang-kunang banyak pas SD di jalan deket kuburan di rumah nenek gue (kunang-kunang, nail of dead people, wkwkwk). Berhubung ada 2 (mantan) anak olimpiade astronomi, mulai deh gombal tentang rasi bintang dan maknanya.

It was luxury in a very affordable price :)

Dan alhamdulillah, smartphone yang gue bawa-bawa berenang gak accidentally kecelakaan (?) berkat dry bag.

Hari berikutnya, hunting sunrise diantara gunung merapi-merbabu ala gambar anak SD. I think it’s a more beautiful sunrise than Bromo’s. worth it lah dengan perjuangan bangun jam 3 pagi plus mogok :))
Hari berikutnya lagi, attending main event, wisudaan. Dan sorenya langsung balik.

Setelah pelarian sejenak yang waktunya diada-adain, gue berjanji untuk lebih produktif lagi, lebih semangat lagi, dan lebih bijaksana lagi (?). dan banyak-banyak bikin dokumentasi travelling lagi, haha.


Thank you for being my treasure, Jogja dan seisinya.

Service System Engineering: Sebuah Transformasi

on Thursday, March 20, 2014
"Setelah bertahun-tahun menjelaskan apa itu teknik industri, saya mengambil kesimpulan bahwa teknik industri perlu mengganti nama untuk menjaga relevansinya saat ini. 
Hal ini terutama berlaku di institusi teknik industri kita. Mempertimbangkan lokasi di ibu kota dan cakupan kerja lulusannya, TIUI selalu berfokus untuk melayani industri jasa dengan tetap mempertahankan kemampuan untuk bekerja di industri manufaktur atau industri produksi barang. Sehingga akhirnya baru-baru ini disepakati bahwa TIUI akan menjadi A Service System Engineering Education Program. Namun saya sadar bahwa kesepakatan ini juga memiliki peluang untuk menambah permasalahan penjelasan karena: (1) harus menjelaskan dulu teknik industri itu apa dan (2) harus menjelaskan konsep service system engineering.
Ketika memikirkan strategi penjelasan inilah, saya akhirnya berkesimpulan bahwa kesalahan terbesar kami semua (para perekayasa industri) adalah karena kurang sadar bahwa kalimat “industri” akan selalu diterjemahkan oleh publik sebagai pabrik. Apalagi ketika disandingkan dengan kata “teknik”. Padahal jika merujuk kepada adanya istilah industri pariwisata, industri musik, atau industri layanan lainnya, telah jelas bahwa industri tidaklah memiliki makna tunggal ke pabrik atau pembuat barang saja, namun juga ke layanan jasa. Nah, apa arti sesungguhnya dari “industri”? Menurut saya adalah penambahan nilai (value adding)
Kata “industri” memang awalnya secara harfiah didefinisikan sebagai “economic activity concerned with the processing of raw materials and manufacture of goods in factories”, yang memang berarti adalah pabrik. Tapi terjemahan ini jika diambil makna sebenarnya adalah adanya aktivitas penambahan nilai. Aktivitas penambahan nilai (value adding activities) terjadi melalui transformasi satu atau beberapa material menjadi sebuah produk. Sebuah tepung terigu ketika diproses menjadi mie instan, memiliki pertambahan nilai yang dilambangkan dengan harga jual yang meningkat. Jadi ketika perekayasa industri melakukan tugasnya di berbagai proses transformasi di pabrik, ternyata disadari bahwa berbagai prinsip-prinsip yang terjadi di pabrik, dapat diimplementasikan pula di proses transformasi lainnya di non-pabrik. 
Mengapa ini terjadi? Karena ini pada aktivitas penambahan nilai ternyata berlaku secara universal di semua bidang. Konsep yang sama juga menyebabkan kata industri dipakai di industri pariwisata dan industri musik. Adanya pertambahan nilai dari sekedar menjual furniture, menjadi menjual kamar hotel, menjadi menjual atraksi wisata menjadi ciri industri pariwisata. Adanya pertambahan nilai dari hanya menyanyi di kamar mandi, menjadi rekaman, acara konser musik dan sebagainya.
Jadi menurut saya, sebaiknya Teknik Industri menjadi Teknik Penambahan Nilai (From Industrial Engineering to Value Adding Engineering). Karena sebenarnya yang dipelajari adalah bagaimana kita merancang, memasang (install) dan meningkatkan aktivitas-aktivitas yang saling berhubungan sehingga dapat memberikan pertambahan nilai dari apa yang diproses. Harus diakui, untuk belajar maka lebih mudah menggunakan obyek manufaktur sebagai studi kasusnya, dibandingkan obyek jasa. Perhatikan kata lebih mudah, bukan tidak mungkin, karena di TIUI perancangan sistem tidak selalu sebuah proses produksi pabrik, tetapi proses layanan restoran, klinik/rumah sakit atau jasa pelabuhan.
Perhatikan pula kata aktivitas yang terkoneksi karena ini juga kata kunci dalam peningkatan nilai tambah. Jadi alih-alih berfokus kepada satu aktivitas yang hanya menjanjikan peningkatan terbatas terhadap nilai, maka fokus diberikan kepada koneksi. Itu yang menyebabkan seorang perekayasa industri eh maaf … perekayasa pertambahan nilai, perlu mempelajari berbagai hal secara cukup (bukan sedikit-dikit) untuk mengidentifikasi dan mengeksploitasi koneksi yang bisa memberikan penambahan nilai yang lebih tinggi. Kita memang tidak boleh terlalu dalam mempelajari satu komponen, karena kita bisa terjebak untuk hanya berfokus kepada komponen tersebut saja. Namun di mata publik, ini cukup ini dianggap sama dengan sedikit, jadi terkesan tidak jelas. Padahal seorang perekayasa industri, eh salah lagi.. perekayasa penambahan nilai :), sebenarnya adalah seorang spesialis, yaitu spesialis generalis. 
(Fokus ke interkoneksi yang membuat pula istilah sistem menjadi sering digunakan di teknik industri. Suatu hal yang akan saya jelaskan di tulisan lain.)
Jadi mungkin saatnya teknik industri berganti nama, karena menjelaskannya menjadi lebih mudah karena namanya menjadi lebih asing sehingga tidak ada asumsi awal yang harus dikoreksi. Pembaca atau pendengar tidak akan terjebak dengan kata industri yang berkonotasi dengan hanya pabrik, dan berpindah fokus ke pertambahan nilai. Karena pada kenyataannya memang teknik industri telah meluas dari sejak berdirinya ke industri-industri yang membutuhkan pertambahan nilai."
Sudah Siapkah Anda Ganti Gelar Jadi Sarjana Teknik Penambahan Nilai (ST.PN)?
(Artikel ini diambil dari blog hidayatno.wordpress.com)
Cukup menarik membaca tulisan dari Ketua Departemen Teknik Industri UI ini. Karena gue pun sering mengalami kondisi dimana gue harus menjelaskan kepada orang-orang sebenarnya Teknik Industri itu apa, belajar apa, biasanya kerjanya ngapain, produk yang dihasilkan apa, dan lain-lain. Masih banyak orang yang mengira Teknik Industri identik dengan industri manufaktur dan sangat lekat dengan kondisi pabrik. Padahal, makna dan teori yang kami pelajari tidak sesempit itu. Walaupun memang Teknik Industri ini lahir dari Teknik Mesin. Namun semakin kesini, lingkup Teknik Industri menjadi semakin luas dan secara bersamaan menjadi semakin spesifik juga. 
Dari tulisan Bapak Kadep TIUI ini sudah jelas memaparkan bahwa intinya pekerjaan kami para TI-ana adalah value adding. Memang untuk menjelaskannya secara mudah dan sederhana, biasanya gue bilang TIUI adalah ilmu yang objeknya manajemen tapi approachnya secara engineering. Masalahnya banyak orang masih mengira engineer selevel dengan teknisi, padahal engineering berarti rekayasa. Nah apa yang kami rekayasa? kami merekayasa produk dan proses agar memiliki added value atau nilai lebih (abstrak dan tidak mudah dicerna sepertinya ya). Personally, gue pro dengan digantinya nama Industrial Engineering menjadi Service System Engineering.
Jadi inget sama seminar 1 lalu, dan tema skripsi gue. Mungkin industri yang gue angkat adalah jenis industri yang tidak biasa dijadikan penelitian oleh kebanyakan TI-ana yang lain. Jadi di skripsi gue, gue mengangkat INDUSTRI SHOWBIZ (hiburan). Sebenarnya di tulisannya pun bapak Kadep sudah menjelaskan bahwa sangat memungkinkan kami-kami para TI-ana terjun ke industri kreatif seperti industri pariwisata dan musik. Dan pertimbangan gue kenapa akhirnya mengambil industri showbiz pun karena gue yakin ilmu teknik industri aplikatif di berbagai macam konteks industri. Walaupun harus menanggung resiko gue tidak menemukan terlalu banyak penelitian terkait yang bisa dijadikan acuan penelitian tapi sampai saat ini gue masih yakin dengan apa yang akan gue perjuangkan, hehehe.
Sebenernya kalo mengingat-ingat lagi kenapa gue mengambil concern ke industri showbiz, yah alasannya cetek sih, mmm....karena gue suka nonton konser (tapi ga suka bayarnya), wkwkwk. jadi semester lalu gue udah galau-galau gimana caranya biar skripsi gue jadi suatu hal yang menyenangkan. walaupun tadinya super susah cari idenya tapi alhamdulillah sampai saat ini dikasi jalan terus untuk gimana-gimananya. bisa banget nyambung-nyambungin online ticketing konser ke masalah e-loyalty dan e-commerce, haha. tapi karena topik inilah yang menjadikan so far skripsi gue jadi skipsweet bukan skripshit. yah kalo kerjaannya cari tau tentang fasilitas tiket konser di luar negeri, terus wawancara pengalaman orang beli dan nonton konser, ya seru, dibanding gue mesti ngurus-ngurus bahan bakar excavator tambang (kerjaan gue waktu kerja praktek yang bikin super duper stress).
Menarik dan agak lucu juga sih dengan tanggapan orang-orang mengenai apa yang gue skripsiin ini. Di seminar 1 kemaren dosen penguji masih bertanya-tanya sebenarnya industri showbiz itu apa dan bagaimana kaitannya dengan engineering factor yang harus gue kerjakan. dan di kantor orang-orang bertanya-tanya ngapain ada anak teknik magang di tempat yang basicly ngurusin media, haha. Tapi jujur, ini seru, dan semogaaaaaaa dikasi kelancaran terus sampai nanti yudisium, amiiiiiiinnn.
Kalau dulu waktu gue SMA, ga jelas apa alasan gue memilih Teknik Industri atau tidak sama sekali, sepertinya sekarang gue sudah menemukan alasan kenapa teknik industri adalah sesuatu yang seru banget.


Kangen

on Sunday, March 9, 2014
Kangen waktu dulu masih jaman semangat banget pengen belajar musik.
Excitement waktu sir imam, orang yang pertama kali percaya, bikin gue banting setir pertama kali dari keyboard jadi drumset. Yang pertama kali muji "saya suka dengan drummernya" dan bikin gue semangat banget belajar drum.
Kangen Tamimi sama Indi, temen nge-band paling awet dari pertama kali masuk sampe lulus, dari V4vendetta sampe elsa band (ini siapa yang nulis elsa band ya? panitia ya? gara2 gapunya nama :D), ketika formasi band berubah-ubah, mereka personel yang ga pernah lengser dari "band cewek" :D.
Kangen nungguin tamimi pinjem gitar indi buat ngulik lagu request-an gue.
Kangen serius dengerin ipod di tengah-tengah belajar, buat mengilhami pola drumnya.
Kangen menanti-nanti hari sabtu jam seni musik biar bisa masuk studio (walaupun seringnya berakhir gajelas main apaan, dan micnya sering ga nyala).
Kangen dibilang drummer of the day waktu ujian praktek seni musik sama pak guru edit.
Kangen screamnya irsyad di afterlife-nya avenged sevenfold
Kangen transfer lagu-lagu di komputer perpus.
Kangen rekaman XCL di kelas pake recordernya MP3 samsung (MP3 sejuta umat) buat ikutan lomba cipta lagu republika.
Kangen rekomendasi lagunya irsyad.
Kangen ngecover lagunya avril sama paramore sama "band cewek" (sepertinya gue terlalu memegang kendali dalam pemilihan lagu ya, hehehe)
Kangen rolling posisi di band (kalo gue kedapetan main gitar, lagunya cuma 1: kiss me)
Kangen (selalu) jatuh hati sama anak band.
Kangen menanti-nanti ajang tahunan, Alcatraz, dimana cowok-cowok mendadak ganteng buat manggung dan diteriakin sama cewe-cewe.
Kangen irfan babeh waktu jadi vokalis, waktu jadi drummer.
Kangen imam TR jagoan gitar yang paling gue terhipnotis kalo udah berduaan sama gitarnya.
Kangen imam TR lagi depapepe-an.
Kangen imam TR gitaran, elsa druman (di studio), atau keyboardan (di XI.NS.2) hahahahaha.
Kangen imam TR di panggungg!!!!!!!!!!!! (jlazzzzz -,-)
Kangen duo master gitar berkolaborasi: imam TR + irsyad
Kangen kagumnya irsyad sama hasil nguliknya tamimi.
Kangen XCL band, yang mempersatukan gue sama imam TR wkwkwkwkwk (bukan galau sumpah)
Kangen XCL band generasi 1, main drum, bareng alif yang suaranya dikagumi para wanita dan imam TR yang suka ngemut pick gitar. Bawain understatement-nya new found glory yang sumpah seru banget haha.
Kangen XCL band generasi 2, main keyboard, bareng lagi sama alif sama imam TR, nambah jagoan drum dagink, dan jagoan bass garda. Bawain another day-nya dream theater (cari mati). saking niatnya, sampe bawa keyboard ke asrama biar bisa belajar.
Tapi sayang, ambisi buat manggung di alcatraz bareng XCL atau sama "band cewek" yang tak bernama itu belum jadi kesampean :(

pokoknya kangen di masa-masa dimana gue masih sangat excited untuk belajar musik.
ntah kenapa pas udah ada akses dan kesempatan buat belajar musik lebih dalam, jadinya malah ga semangat kayak dulu. orang-orang yang main drum pun jadi ga se-charming itu. padahal dulu bermimipi-mimpi banget jadi musisi :p

i really miss that excitement.
i really miss play in a band, in a real band, with a vocalist, guitarist, bassist, and drummer.
and i really miss my high school era.