Service System Engineering: Sebuah Transformasi

on Thursday, March 20, 2014
"Setelah bertahun-tahun menjelaskan apa itu teknik industri, saya mengambil kesimpulan bahwa teknik industri perlu mengganti nama untuk menjaga relevansinya saat ini. 
Hal ini terutama berlaku di institusi teknik industri kita. Mempertimbangkan lokasi di ibu kota dan cakupan kerja lulusannya, TIUI selalu berfokus untuk melayani industri jasa dengan tetap mempertahankan kemampuan untuk bekerja di industri manufaktur atau industri produksi barang. Sehingga akhirnya baru-baru ini disepakati bahwa TIUI akan menjadi A Service System Engineering Education Program. Namun saya sadar bahwa kesepakatan ini juga memiliki peluang untuk menambah permasalahan penjelasan karena: (1) harus menjelaskan dulu teknik industri itu apa dan (2) harus menjelaskan konsep service system engineering.
Ketika memikirkan strategi penjelasan inilah, saya akhirnya berkesimpulan bahwa kesalahan terbesar kami semua (para perekayasa industri) adalah karena kurang sadar bahwa kalimat “industri” akan selalu diterjemahkan oleh publik sebagai pabrik. Apalagi ketika disandingkan dengan kata “teknik”. Padahal jika merujuk kepada adanya istilah industri pariwisata, industri musik, atau industri layanan lainnya, telah jelas bahwa industri tidaklah memiliki makna tunggal ke pabrik atau pembuat barang saja, namun juga ke layanan jasa. Nah, apa arti sesungguhnya dari “industri”? Menurut saya adalah penambahan nilai (value adding)
Kata “industri” memang awalnya secara harfiah didefinisikan sebagai “economic activity concerned with the processing of raw materials and manufacture of goods in factories”, yang memang berarti adalah pabrik. Tapi terjemahan ini jika diambil makna sebenarnya adalah adanya aktivitas penambahan nilai. Aktivitas penambahan nilai (value adding activities) terjadi melalui transformasi satu atau beberapa material menjadi sebuah produk. Sebuah tepung terigu ketika diproses menjadi mie instan, memiliki pertambahan nilai yang dilambangkan dengan harga jual yang meningkat. Jadi ketika perekayasa industri melakukan tugasnya di berbagai proses transformasi di pabrik, ternyata disadari bahwa berbagai prinsip-prinsip yang terjadi di pabrik, dapat diimplementasikan pula di proses transformasi lainnya di non-pabrik. 
Mengapa ini terjadi? Karena ini pada aktivitas penambahan nilai ternyata berlaku secara universal di semua bidang. Konsep yang sama juga menyebabkan kata industri dipakai di industri pariwisata dan industri musik. Adanya pertambahan nilai dari sekedar menjual furniture, menjadi menjual kamar hotel, menjadi menjual atraksi wisata menjadi ciri industri pariwisata. Adanya pertambahan nilai dari hanya menyanyi di kamar mandi, menjadi rekaman, acara konser musik dan sebagainya.
Jadi menurut saya, sebaiknya Teknik Industri menjadi Teknik Penambahan Nilai (From Industrial Engineering to Value Adding Engineering). Karena sebenarnya yang dipelajari adalah bagaimana kita merancang, memasang (install) dan meningkatkan aktivitas-aktivitas yang saling berhubungan sehingga dapat memberikan pertambahan nilai dari apa yang diproses. Harus diakui, untuk belajar maka lebih mudah menggunakan obyek manufaktur sebagai studi kasusnya, dibandingkan obyek jasa. Perhatikan kata lebih mudah, bukan tidak mungkin, karena di TIUI perancangan sistem tidak selalu sebuah proses produksi pabrik, tetapi proses layanan restoran, klinik/rumah sakit atau jasa pelabuhan.
Perhatikan pula kata aktivitas yang terkoneksi karena ini juga kata kunci dalam peningkatan nilai tambah. Jadi alih-alih berfokus kepada satu aktivitas yang hanya menjanjikan peningkatan terbatas terhadap nilai, maka fokus diberikan kepada koneksi. Itu yang menyebabkan seorang perekayasa industri eh maaf … perekayasa pertambahan nilai, perlu mempelajari berbagai hal secara cukup (bukan sedikit-dikit) untuk mengidentifikasi dan mengeksploitasi koneksi yang bisa memberikan penambahan nilai yang lebih tinggi. Kita memang tidak boleh terlalu dalam mempelajari satu komponen, karena kita bisa terjebak untuk hanya berfokus kepada komponen tersebut saja. Namun di mata publik, ini cukup ini dianggap sama dengan sedikit, jadi terkesan tidak jelas. Padahal seorang perekayasa industri, eh salah lagi.. perekayasa penambahan nilai :), sebenarnya adalah seorang spesialis, yaitu spesialis generalis. 
(Fokus ke interkoneksi yang membuat pula istilah sistem menjadi sering digunakan di teknik industri. Suatu hal yang akan saya jelaskan di tulisan lain.)
Jadi mungkin saatnya teknik industri berganti nama, karena menjelaskannya menjadi lebih mudah karena namanya menjadi lebih asing sehingga tidak ada asumsi awal yang harus dikoreksi. Pembaca atau pendengar tidak akan terjebak dengan kata industri yang berkonotasi dengan hanya pabrik, dan berpindah fokus ke pertambahan nilai. Karena pada kenyataannya memang teknik industri telah meluas dari sejak berdirinya ke industri-industri yang membutuhkan pertambahan nilai."
Sudah Siapkah Anda Ganti Gelar Jadi Sarjana Teknik Penambahan Nilai (ST.PN)?
(Artikel ini diambil dari blog hidayatno.wordpress.com)
Cukup menarik membaca tulisan dari Ketua Departemen Teknik Industri UI ini. Karena gue pun sering mengalami kondisi dimana gue harus menjelaskan kepada orang-orang sebenarnya Teknik Industri itu apa, belajar apa, biasanya kerjanya ngapain, produk yang dihasilkan apa, dan lain-lain. Masih banyak orang yang mengira Teknik Industri identik dengan industri manufaktur dan sangat lekat dengan kondisi pabrik. Padahal, makna dan teori yang kami pelajari tidak sesempit itu. Walaupun memang Teknik Industri ini lahir dari Teknik Mesin. Namun semakin kesini, lingkup Teknik Industri menjadi semakin luas dan secara bersamaan menjadi semakin spesifik juga. 
Dari tulisan Bapak Kadep TIUI ini sudah jelas memaparkan bahwa intinya pekerjaan kami para TI-ana adalah value adding. Memang untuk menjelaskannya secara mudah dan sederhana, biasanya gue bilang TIUI adalah ilmu yang objeknya manajemen tapi approachnya secara engineering. Masalahnya banyak orang masih mengira engineer selevel dengan teknisi, padahal engineering berarti rekayasa. Nah apa yang kami rekayasa? kami merekayasa produk dan proses agar memiliki added value atau nilai lebih (abstrak dan tidak mudah dicerna sepertinya ya). Personally, gue pro dengan digantinya nama Industrial Engineering menjadi Service System Engineering.
Jadi inget sama seminar 1 lalu, dan tema skripsi gue. Mungkin industri yang gue angkat adalah jenis industri yang tidak biasa dijadikan penelitian oleh kebanyakan TI-ana yang lain. Jadi di skripsi gue, gue mengangkat INDUSTRI SHOWBIZ (hiburan). Sebenarnya di tulisannya pun bapak Kadep sudah menjelaskan bahwa sangat memungkinkan kami-kami para TI-ana terjun ke industri kreatif seperti industri pariwisata dan musik. Dan pertimbangan gue kenapa akhirnya mengambil industri showbiz pun karena gue yakin ilmu teknik industri aplikatif di berbagai macam konteks industri. Walaupun harus menanggung resiko gue tidak menemukan terlalu banyak penelitian terkait yang bisa dijadikan acuan penelitian tapi sampai saat ini gue masih yakin dengan apa yang akan gue perjuangkan, hehehe.
Sebenernya kalo mengingat-ingat lagi kenapa gue mengambil concern ke industri showbiz, yah alasannya cetek sih, mmm....karena gue suka nonton konser (tapi ga suka bayarnya), wkwkwk. jadi semester lalu gue udah galau-galau gimana caranya biar skripsi gue jadi suatu hal yang menyenangkan. walaupun tadinya super susah cari idenya tapi alhamdulillah sampai saat ini dikasi jalan terus untuk gimana-gimananya. bisa banget nyambung-nyambungin online ticketing konser ke masalah e-loyalty dan e-commerce, haha. tapi karena topik inilah yang menjadikan so far skripsi gue jadi skipsweet bukan skripshit. yah kalo kerjaannya cari tau tentang fasilitas tiket konser di luar negeri, terus wawancara pengalaman orang beli dan nonton konser, ya seru, dibanding gue mesti ngurus-ngurus bahan bakar excavator tambang (kerjaan gue waktu kerja praktek yang bikin super duper stress).
Menarik dan agak lucu juga sih dengan tanggapan orang-orang mengenai apa yang gue skripsiin ini. Di seminar 1 kemaren dosen penguji masih bertanya-tanya sebenarnya industri showbiz itu apa dan bagaimana kaitannya dengan engineering factor yang harus gue kerjakan. dan di kantor orang-orang bertanya-tanya ngapain ada anak teknik magang di tempat yang basicly ngurusin media, haha. Tapi jujur, ini seru, dan semogaaaaaaa dikasi kelancaran terus sampai nanti yudisium, amiiiiiiinnn.
Kalau dulu waktu gue SMA, ga jelas apa alasan gue memilih Teknik Industri atau tidak sama sekali, sepertinya sekarang gue sudah menemukan alasan kenapa teknik industri adalah sesuatu yang seru banget.


Kangen

on Sunday, March 9, 2014
Kangen waktu dulu masih jaman semangat banget pengen belajar musik.
Excitement waktu sir imam, orang yang pertama kali percaya, bikin gue banting setir pertama kali dari keyboard jadi drumset. Yang pertama kali muji "saya suka dengan drummernya" dan bikin gue semangat banget belajar drum.
Kangen Tamimi sama Indi, temen nge-band paling awet dari pertama kali masuk sampe lulus, dari V4vendetta sampe elsa band (ini siapa yang nulis elsa band ya? panitia ya? gara2 gapunya nama :D), ketika formasi band berubah-ubah, mereka personel yang ga pernah lengser dari "band cewek" :D.
Kangen nungguin tamimi pinjem gitar indi buat ngulik lagu request-an gue.
Kangen serius dengerin ipod di tengah-tengah belajar, buat mengilhami pola drumnya.
Kangen menanti-nanti hari sabtu jam seni musik biar bisa masuk studio (walaupun seringnya berakhir gajelas main apaan, dan micnya sering ga nyala).
Kangen dibilang drummer of the day waktu ujian praktek seni musik sama pak guru edit.
Kangen screamnya irsyad di afterlife-nya avenged sevenfold
Kangen transfer lagu-lagu di komputer perpus.
Kangen rekaman XCL di kelas pake recordernya MP3 samsung (MP3 sejuta umat) buat ikutan lomba cipta lagu republika.
Kangen rekomendasi lagunya irsyad.
Kangen ngecover lagunya avril sama paramore sama "band cewek" (sepertinya gue terlalu memegang kendali dalam pemilihan lagu ya, hehehe)
Kangen rolling posisi di band (kalo gue kedapetan main gitar, lagunya cuma 1: kiss me)
Kangen (selalu) jatuh hati sama anak band.
Kangen menanti-nanti ajang tahunan, Alcatraz, dimana cowok-cowok mendadak ganteng buat manggung dan diteriakin sama cewe-cewe.
Kangen irfan babeh waktu jadi vokalis, waktu jadi drummer.
Kangen imam TR jagoan gitar yang paling gue terhipnotis kalo udah berduaan sama gitarnya.
Kangen imam TR lagi depapepe-an.
Kangen imam TR gitaran, elsa druman (di studio), atau keyboardan (di XI.NS.2) hahahahaha.
Kangen imam TR di panggungg!!!!!!!!!!!! (jlazzzzz -,-)
Kangen duo master gitar berkolaborasi: imam TR + irsyad
Kangen kagumnya irsyad sama hasil nguliknya tamimi.
Kangen XCL band, yang mempersatukan gue sama imam TR wkwkwkwkwk (bukan galau sumpah)
Kangen XCL band generasi 1, main drum, bareng alif yang suaranya dikagumi para wanita dan imam TR yang suka ngemut pick gitar. Bawain understatement-nya new found glory yang sumpah seru banget haha.
Kangen XCL band generasi 2, main keyboard, bareng lagi sama alif sama imam TR, nambah jagoan drum dagink, dan jagoan bass garda. Bawain another day-nya dream theater (cari mati). saking niatnya, sampe bawa keyboard ke asrama biar bisa belajar.
Tapi sayang, ambisi buat manggung di alcatraz bareng XCL atau sama "band cewek" yang tak bernama itu belum jadi kesampean :(

pokoknya kangen di masa-masa dimana gue masih sangat excited untuk belajar musik.
ntah kenapa pas udah ada akses dan kesempatan buat belajar musik lebih dalam, jadinya malah ga semangat kayak dulu. orang-orang yang main drum pun jadi ga se-charming itu. padahal dulu bermimipi-mimpi banget jadi musisi :p

i really miss that excitement.
i really miss play in a band, in a real band, with a vocalist, guitarist, bassist, and drummer.
and i really miss my high school era.

a new chapter starts today

on Monday, February 10, 2014
Fase alam dengan segala senang-senangnya sudah selesai.
Bersyukur bisa dikasi kesempatan buat refresh otak dan hati yang udah cukup bosen dan jenuh sama suasana yang kemaren-kemaren. Mulai dari Singapura dengan Universal Studio, Cove Waterpark dan foto selfie sepanjang 4 hari bersama teman segala teman: nyunyun, sampai lepassssss banget memacu adrenaline dengan 2 minggu berturut-turut ke Dufan dan akhirnya berhasil video selfie di alap-alap :D.





Selamat wisuda buat teman-teman yang berhasil selesein masa kuliahnya dalam kurun waktu 3.5 tahun. 30 sekian teman-teman di Teknik Industri, teman 10 tahun Tyka Ramona, Bang Oji, teman KP Berau Vera (walaupun ga ketemu :((( ), dan teman-teman MB.

atas: 2010 (maba)
bawah: 2014 (S.T)
Tyka Ramona S. Kom (bener ga sih?)

Selamat dan semangat juga untuk teman-teman pengurus MBUI 2014 terutama nyunyun yang kesampean mau jadi menejer danus :p
Mohon maaf kontribusinya masih kecil untuk unit ini. Mohon maaf sempet nolak berkontribusi lebih lanjut karena masalah prinspil. Insya Allah ini yang terbaik karena udah minta yang terbaik sama yang di Atas. 

Habis ini mau belajar jadi orang yang lebih baik lagi, mau belajar jadi lebih bijaksana, percaya kalau semua setiap orang dikasi jalan hidup terbaiknya masing-masing.
Leave the past behind.
My new chapter starts today.


VAT 2013 dan Pubdok

on Saturday, February 8, 2014


"Memiliki preferensi bekerja secara teamwork"
Gue nulis kayak begitu di salah satu form open recruitment sesuatu.
Iya banget. Gue anak yang suka diskusi dan ngerjain sesuatu secara tim. Banyak hal yang kalo gue kerjain sendiri yang niatnya jadi keren banget tapi eksekusinya keren aja, haha. Beruntung selama satu tahun kemaren dikasi environment kerja yang enak. Dikasi kesempatan untuk gabung di Pubdok (Publikasi dan Dokumentasi) MBUI yang anaknya super talented.

Tahun ini pubdok MBUI dipuji abis-abisan sama banyak pihak karena karya-karyanya yang kece badai. Managernya, Biancha Martha emang jago pilih-pilih anak yang potensinya saling melengkapi. 
Twitter sekarang hidup banget karena adminnya Pija
Tampilan web diperbaharui bahkan punya aplikasi android sendiri yang dibikinin Rayyan
Poster-poster keren pake "taste"-nya Biancha, Cita
dll.

Gue sendiri ranah "pekerjaan"nya di sekitaran video, dan di proyek 2013 dari awal rapat Biancha bilang "pokoknya video akhir tahun gue serahin sama lo, cul". yaudah berhubung udah digituin, kerjaan ngerekam-rekam sama mikirin konsepnya udah jauh-jauh hari. Oh ya, gue jadi menyadari gue itu orang yang tidak memiliki preferensi bekerja di bawah deadline. Kalo udah beneran niat ngerjain sesuatu, pasti dicicil dan (insya Allah) selesai pada saatnya dan biasanya butuh waktu yang ga sebentar karena bentar-bentar bosen, capek, dll. Kalo kerjaan yang dadakan, yauda hasilnya kayak kerjaan kuliah aja tuh, setengah-setengah, wkwk.

Waktu nyicil di rumah, mabok banget karena mesti nyortir video dari harddisk 1 tera yang foldernya numpuk-numpuk dan berantakan. Pusing karena video yang ada di harddisk random, dan mesti mikirin gimana biar ada alurnya dikit. dan yang paling parah karena rekamannya pake kamera yang kualitasnya beda-beda, resolusi, brightness sama audionya juga beda-beda. akhirnya mesti utak atik video di fix, trim, lalalala dan audio yang mesti di fade-in fade-out dan diatur volumenya biar sama. dari yang tadinya PPS sendirian pas ngerjain sampe jadi muak gara-gara 1 video diliat 10 kali bolak-balik :"").

Seneng banget dari hasil awal yang tadinya gue kerjain sendiri dan cacat dimana-dimana disempurnakan sama anak-anak pubdok yang lain. Berhubung taste grafik gue jelek banget, sumpah jelek banget, yang gini-ginian dikerjain sama cita biar cantik :D dan gue blank banget masalah kata-kata gara-gara udah keburu pusing sama video, yang gini-ginian dikasi ke biancha sama della :D

Nah video ini gak lepas dari anak-anak pasukan yang udah bikin "memori" dan seluruh anak pubdok dan additional crew yang rekam sana-sini. Mohon maaf kalo eksekusi akhir dari semua itu ada yang dirasa kurang karena kami masih amatir. Semoga MBUI makin berjaya dan karyanya yang dikenal di luar sana ga cuma skill marchingnya, hehe.

Pubdok MBUI 2013 lagi2 kurang Ranti, Saber, Ari

Treatment for the Brokenhearted

on Thursday, January 2, 2014

Break up is a lot easier when you have friends, activities, and money
Twit gue 3 bulan yang lalu. 3 bulan berlalu semenjak masa khawatir-jadi patah hati-sampe jadi I don’t give a damn anymore, nyatanya hidup gue masih gini-gini aja, ga sampe meratapi hidup tiap malam dan ngerasa pengen menyudahi hidup kayak dulu lagi wkwkwk. Dan terima kasih untuk orang-orang yang tidak menyadari adanya perubahan apapun dalam diri gue sampe heran kok gue masih bisa terlihat happy-happy.

Tapi memang apa yang gue twit 3 bulan yang lalu itu bener-bener dari hati banget, karena sebenarnya gue melakukan banyak treatment untuk menyenangkan diri sendiri dengan cara apapun sama siapapun haha.

1.       Share-“share”. Bisa dibilang orang yang paling berjasa sama pencapaian move on gue adalah rere dan talitha. Pihak netral yang ga tau apa-apa tapi memberikan solusi paling realistis dan objektif. Pihak yang “BIG NO NO” ketika semua orang menyarankan untuk cari win-win solution. Napak tilas yang terpercaya. Selalu bertanya perkembangan dan memastikan gue tidak melakukan hal-hal yang membuat gue terlihat lemah dan kalah. Orang yang memaksa gue melakukan SWOT analysis dan weighted value macem “apakah poin-poin lain yang dia berikan bisa menutupi poin kebahagiaan yang harusnya jadi poin terbesar dalam sebuah hubungan?” sampe “emangnya dia bisa beliin lo tiffany’s? bahkan “kalo gabisa ngasi kebahagiaan di dunia, bisa kasi kebahagiaan di akhirat ga?”. Orang yang mengarahkan gue untuk keluar dari jalur korban-korban cinta buta. Terima kasih untuk menyadarkan bahwa bukan hanya satu orang di dunia ini yang mau mengerti kita, tapi tergantung bagaimana kita memberikan kesempatan pada orang lain untuk mengerti kita. I owe you a life, girls :”)
2.        Just share. Di bulan pertama, entah berapa juta orang yang mendengar keluh kesah rintihan hati serta spekulasi dari mulut gue sendiri. Ada yang menanyakan untuk apa gue kebanyakan ngomong toh tidak akan memberikan perubahan apa-apa. Jawabannya as simple as “biar puas aja” kok. Bicara itu salah satu pain release sih, bagi gue,  cerita menggebu-gebu sambil dibercandain itu obat banget. Dan ini ampuh, dibanding gue ngeblog galau dialog batin ya mending gue konferensi pers ga peduli siapa audiensnya kan? (seriously ngomongnya bukan konteks curhat, tapi story telling to all ladies and gentleman hahaha). Maaf-maaf aja kalo merusak citra, tapi ntah kenapa kayaknya I’m brilliant at influencing someone.
3.       Aktivitas yang pada saat itu benar-benar mengalihkan perhatian gue adalah pelantikan 38. Dengan segala rapat dan urusan yang bikin pusing (sampe-sampe membatalkan pulang kampung). Dan terima kasih sudah dikasi kesempatan ngerasain dibutuhin sama sejuta umat.
4.       Mureeee. I suddenly became a yes woman to everyone.  Dimintain tolong ngapain aja, diajak kemana aja. Daripada nganggur ya gue terima aja dikasi kerjaan. Ada acara apa aja gue datengin. Termasuk nimbrung dan nebeng makan sama siapapun abis pulang latihan mengatasnamakan “mingle” (yang biasanya agak apatis pulang berdua aja). Alhamdulillah orangnya gak ikutan nimbrung juga, biarlah apatis sendiri ngelatih-pulang-ngelatih-pulang :D
5.       Ikutan lomba-lombaan sama partner lomba, tapi ga ada yang lulus seleksi. Belum rezeki. Belum optimal juga usahanya sih.
6.       Tiap kali ada waktu kosong ke Wallstreet, mayan ngobrol sama bule. Untung metode belajarnya gak boring.
7.       Ngajakin orang untuk sleepover sebanyak-banyaknya. Gak lain gak bukan biar ga ada momen soliter di tengah malam yang berpotensi untuk menjadi waktu penggalauan. Untung kamar gue gede, bisa bawa ciwi-ciwi segerombolan buat sekedar nemenin bobo sambil tawa-tawa. Apes-apesnya ga ada yang bisa diajak sleepover, ngungsi ke kamar sebelah sambil kerjain tugas sampe ketiduran.
8.       Cumat-cumat. Aka cuci mata. Ada aja yang so clean so handsome so clear my vision. Tapi sayangnya kalau tidak berjodoh tidak ada jalannya. Niat mau pedekate malah ketumpahan tempe itu benar-benar terjadi, saudara.
9.       No kepo. Ignorance is bliss, maaan. Orang yang paling bahagia adalah orang yang gak tau apa-apa, believe me. Awalnya memang butuh “pemaksaan” untuk tidak mencari tahu. Tapi like chiqa said, tembok pun berbicara padamu, tanpa mencari tahu kamu akan tahu sendiri (dari manapun), yang lebih tidak diperlukan lagi adalah mencari pembenaran atas itu. Fyi, all of the alayness yang gue tahu itu cuma berdasarkan laporan, I don’t give a damn for the alayness lah. Gue tidak merasa butuh tahu apapun. Bahkan seringan gue roamingnya kalo lagi di cengin.
10.   Listen. Kedamaian ga cuma didapat dengan cara berbicara, tapi juga dengan mendengarkan. Seneng rasanya bisa jadi orang yang dimintai pendapat, diajak ngomong dari hati ke hati, mendengarkan kata-kata “ah lu jangan bilang siapa-siapa, belom ada yang tahu nih”. Seneng ada yang bilang “ah kenapa sih gue baru kenal sama lo sekarang”. Untuk yang bingung-bingung memainkan rolesnya, untuk yang tercabik-cabik karena tersingkir, untuk yang penasaran dengan cinta, dan untuk yang terjebak friendzone dari zaman MBIC sampai akhir proyek, terus berbagilah….karena masalah tidak cuma menghampirimu J. Dan terkhusus untuk orang jagoan yang harus mengalami masa-masa sulit yang dulunya didambakan akan berakhir bahagia, tapi ternyata ditikam di depan mata, i feel you…. Gue percaya time will heal, what doesn’t kill you make you stronger. Jangan menyiksa diri sendiri, at least ada gue kok yang mau diajakin sesampahan walaupun gabisa dimintain tolong kerjain skripsi lo :D.
11.   Ke Jogjakarta. Mencari kedamaian. Naik kereta ke luar kota sendirian, for the very first time. Jauh-jauh ke jogja buat karaoke sama soulmate paramore-avril 3 jam marathon lagu paramore sama avril doang. We’re doing like-a-hayley happy singing with “jump, jump, jump”, “1,2,3,4”,  sampe “helllooww new York”. Sumpah ga pernah karaokean se-all out waktu itu. Ditambah ketemu anak-anak Nozo Jog yang selalu welcome dan warm sama tamu. Tanpa direncanakan pas banget lagi ada teman dari negeri seberang yang juga lagi main ke jogja, dan pas banget sama ulang tahun Indi, temen sehati seband dulu. 1 hal lagi yang bikin hati damai adalah…..berbagi sama seorang teman lama, yang bercerita panjang lebar tentang masa lalu yang masih menghantuinya sampe sekarang, hampir 4 tahun men. Thank you guys, you didn’t take me anywhere but to talk to you was enough. it’s one of thing that money can’t buy: peace from friends-like-fams J. I feel like I always have a place to stay when the world don’t orbit around me, thank you, Nozo :”).
12.   Randomly ke bandung. Randomly ke terminal naik bis ke bandung hujan-hujan. Habis bersenang-senang sesorean, ceceritaan semalaman sampai pagi tentang banyak hal. Hah gak nyangka orang yang dulu sempet gue bilang “basi banget sih lo”, kemaren jadi temen ngobrol 13 jam.
13.   Ended up with shopping. Those who said money cant buy happiness don’t know where to shop, I mean it. New bag, new clothes, new watch, new jeans, makan enak-enak mulu. Sayangnya gajian hasil KP gue pas-pasan juga, wkwkwk.
14.   No nostalgia. This is not the right time to recall memories. Thinking that nostalgia is pathetic, even tragic. Don’t wanna hear a sad song. But maroon 5’s payphone is stupid love song made me sick hahaha jlazzz.
15.   Burgundy your hair, papaya your nail, cause YOLO. Biar apa? Biar seneng aja.
16.   Pinjem gitar. Setelah bertahun-tahun lamanya ga megang gitar karena alesan ga punya gitar dan ga sempet, akhirnya ngumpulin niat lagi buat belajar gitar. Tutorial gratisan di youtube berniat cover lagu-lagu “yang gue banget” tapi berakhir cover nyampah ketawa mampus bareng temen yang sama stressnya.
17.   Don’t cry. Period.
18.   No regret. Sebenernya gue bodo amat sih sama the rule of someone who cheat with you will cheat on you, so you have to be careful and prepare from the beginning. Yaudahlah, mayan juga buat jadi cerita drama di masa depan. Drama anak SMA…….jlazzzz. drama denial dan sok prinsipil, yuh……..
19.   Menyadari. Pertama, menyadari sebenarnya apa benefit utama yang bisa gue peroleh dari dia. Ada 1 yang paling utama tapi gak bisa gue share begitu aja disini karena terlalu busuk untuk diketahui banyak orang haha. Apakah sudah didapatkan? Sudah, apakah dengan perginya dia, benefit itu juga akan pergi? Enggak, so nothing to lose. Kedua, menyadari apa yang hilang beserta dengan hilangnya dia? Hmmm…..anter jemput? Ga seberapa karena punya motor sendiri. Duh cetek. Ada hal-hal yang lain yang mesti disadari tapi gabisa ditulis disini juga haha.
20.   Fake it till you make it. People, there aren’t any real strong people anywhere. Only people who can put on a good show of being strong. Bertindaklah seolah-olah, yang seolah-olah itu nantinya akan jadi kebiasaan. Believe me it’s not that easy to face "the problem’s face” every day, EVERY DAY. So fake it till you really make it and people admit that you have a good show.
21.   Berdoa. He’s The One who holds the cure for every kind of pain. Berdoa untuk diberikan hati yang ikhlas, hati yang lapang, dan dijauhkan dari rasa dendam. It really works, sooner or later. God is always here, never moved an inch. Ketika lo tahu ga ada yang bisa lo lakukan untuk memperbaiki apapun, atau takut kalau berbuat sesuatu malah memperburuk keadaan, berdoa saja. There was a time I became “kerok”, dipenuhi rasa benci dan balas dendam, tapi gue ga punya kuasa atas apa-apa. I learned to stay relax, (once again) don’t give a damn, take everything easily, and pray much. So, maybe this is the “tulus” phase. Be patience. What goes around will come back around.